Kamis, 31 Oktober 2013
Kelebihan Menjadi seorang Penulis Buku
Profesi penulis dapat dikategorikan menjadi beragam bentuk. Ada penulis artikel yang biasa disebut kolumnis, ada penulis resensi yang biasa disebut resensator, ada penulis kritik yang biasa disebut kritikus, ada penulis naskah pidato, ada penulis naskah film dan lain-lain. Jadi, penulis dapat melingkupi beberapa bidang berdasarkan jenis dan tujuannya. Lalu, mengapa penulis buku dipilih?
Buku memang dapat dijadikan pilihan karena memiliki lima kelebihan. Lantas Apa sajakah kelebihannya simak dibawah ini:
Membahas Tuntas
Setiap media pasti menentukan jumlah karakter atau kata untuk setiap artikel yang dikirimkan penulis. Rerata setiap artikel maksimal terdiri atas 6000 kata. batasan ini sangat merugikan penulis. Mengapa? Semata kata. Menurutku, jelas batasan ini sangat merugikan penulis. Mengapa? Semata saya tak bisa menuntaskan ide untuk menuangkan segala isi pikiran. Jika ide itu dituangkan ke naskah buku, andapun bisa memiliki keleluasaan untuk mengembangkan berdasarkan pengetahuan dan pengalaman.
Awet
Namanya saja buku, tentu benda itu harus dijilid dan disampuli. Karena dijilid itulah, buku lebih awet daripada koran. Selain itu, buku juga dapat digunakan sepanjang masa tanpa batasan waktu. Selagi penerbit masih memiliki pertimbangan permintaan pasar, biasanya buku itu akan terus diterbitkan. Mungkin penulis hanya diminta untuk memerbaharui alias merevisi beberapa bagiannya.
Buku memiliki kadar keilmiahan dan keilmuan lebih baik daripada sekadar opini dalam artikel. Setiap buku nonfiksi tentang pengetahuan tentunya ditulis berdasarkan sikap ilmiah sang penulis. Oleh karena itu, penulis akan selalu berusaha menyelaraskan konsep yang dikembangkannya berdasarkan sikap ilmiahnya, yaitu pemakaian buku referensi. Di sinilah kelebihan buku tersebut, tak semata berisi opini yang dikembangkan sang penulis.
Poin Berlebih
Bagi orang yang berprofesi sebagai pegawai dan atau karyawan, pasti kita mengetahui bahwa kita diwajibkan untuk menyusun karya ilmiah manakala kita berkeinginan untuk naik pangkat. Buku adalah sumur sekaligus tambang poin alias nilai kredit yang sangat tinggi. Setahuku, sebuah buku ber-ISBN memiliki bobot 4 – 8 poin. Perbedaan itu disebabkan jenis buku dan tingkat persebarannya. Jika buku itu digunakan secara nasional (bahkan internasional), tentu kredit poinnya pun membengkak.
Nilai Kebaikan
Penulis itu pendakwah yang diwujudkan dalam bentuk tulisan. Oleh karena itu, penulis akan menuangkan gagasan terbaiknya secara tulus. Karena keikhlasan inilah, Allah memberikan kelebihan kebaikan kepada penulis. Jika satu huruf kebaikan terbaca akan memberikan satu derajat kebaikan kepada pembacanya, sudah barang tentu penulis akan diberikan Allah dengan beragam kebaikan lainnya. Maka, pernahkah kita menemukan penulis itu miskin (ilmu dan harta)? Justru begitu banyak orang menjadi kaya dan dikayakan karena kegemarannya menulis buku.
Mari menulis buku, apalagi sambil menjual buku yang anda tulis tersebut..
Tips Singkat dalam Menulis Buku
Saat ini pertumbuhan demand terhadap buku semakin meningkat, oleh karena itu bisnis jual buku terutama menjualnya di toko online sedang tren. Dibawah ini ada beberapa poin singkat mengenai cara menulis buku.
Keuntungan menulis buku diantaranya;
- Menguasai materi
- Bertambah wibawa
- Menjadi teladan
- Mendapatkan penghasilan
- Mendapatkan poin untuk keperluan kenaikan pangkat
- Tips menulis buku ajar;
Baca buku jajar yang lolos BNSP
- Pelajari SI
- Buat peta konsep
- Kumpulkan materi, dan
- Kembangkan
Kelebihan menulis buku teks;
- Pembelian banyak
- Penghasilan terhadap jual buku lebih banyak
- Mendapatkan poin lebih banyak
Tips menulis buku pengayaan;
- Pelajari SI
- Temukan kebutuhan
- Susun mid set
- Kumpulkan bahan
- Kembangkan
- Diskusi
- Tawarkan
Kelebihan buku pengayaan
- Umur buku lebih panjang
- Materi luas
- Syarat ringan
Tips mengejar penerbit
- Bergaul dengan para penulis handal
- Gunakan internet untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya
- IKAPI
- Percaya diri untuk mempromosikan diri di sosial media
Demikian tips singkatnya, semoga bermanfaat.
Tiga Cara Menerbitkan Buku
Zaman sudah berubah, menerbitkan buku tidak lagi susah. Penerbit makin banyak bermunculan. Banyak orang dan kalangan berlomba-lomba menerbitkan buku. Komunitas-komunitas sastra menerbitkan antologi puisi atau cerpen. Para dosen menerbitkan buku-buku teks atau panduan bagi mahasiswa, sekalian menambah poin angka kreditnya. Para pembicara seminar menulis buku yang berisi materi-materi seminarnya, sekalian dijual saat mengadakan seminar di berbagai tempat.
Terlepas dari sampai sejauh mana sebuah buku bisa bermanfaat bagi para pembacanya. Ada tiga cara dalam menerbitkan buku berikut diantaranya:
Penerbitan Umum (Konvensional)
Penerbitan ini adalah cara yang paling banyak ditempuh oleh penulis. Para penulis menyerahkan naskah pada penerbit, kemudian menunggu selama beberapa minggu atau bulan untuk mendapatkan kepastian naskahnya layak terbit, tidak layak, atau perlu direvisi sebelum terbit. Tiap penerbit memiliki waktu yang berbeda dalam menilai naskah. Penerbit Gramedia Pustaka Utama biasanya menilai sebuah naskah selama 2 hingga 3 bulan. Penerbit Bhuana Ilmu Populer melakukannya selama 60 hari. Penerbit Elexmedia, Dolphin, atau Bentang Pustaka melakukannya dalam waktu yang lebih pendek, yakni sebulan.
Bila sebuah naskah dinyatakan layak terbit, biasanya penulis diajak bekerjasama oleh penerbit, dalam hal ini diwakili editor, untuk merapikan (mengedit) naskahnya, memberikan usul tentang kaver buku, dan beberapa hal lainnya seputar bentuk buku yang akan dicetak. Penulis juga akan menerima surat kontrak atau perjanjian tentang hasil yang diterimanya dari penjualan bukunya.
Ada hasil yang diberikan sekali saja, biasanya dikenal dengan istilah atau sistem beli putus. Hasil berupa uang ini diberikan penerbit kepada penulis saat bukunya sudah selesai dicetak dan siap dipasarkan. Salah satu penerbit yang sering melakukan beli putus ini adalah Diva Press. Jadi, lewat cara beli putus, dapat dikatakan bahwa penulis menjual naskahnya yang dibayar secara kontan oleh penerbit.
Ada juga hasil yang diberikan dalam bentuk atau sistem royalti. Royalti adalah hasil penjualan buku yang diberikan kepada penulis secara berkala — biasanya 6 bulan sekali. Tiap penerbit memiliki penghitungan royalti yang berbeda. Ada penerbit yang memberikan royalti 10 persen dari harga jual sebuah buku kepada penulis, ada yang cuma memberikan 8 persen.
Hal yang perlu diwaspadai oleh penulis adalah kecurangan penerbit dalam melaporkan jumlah naskah yang dicetak atau laku terjual. Saat sebuah penerbit memutuskan untuk menerbitkan sebuah naskah dan mencetaknya sekian ribu eksemplar, umumnya penulis tidak melihat proses itu secara langsung. Demikian pula dengan jumlah naskah yang laku, penulis hanya menerima laporannya dan kemudian mendapatkan royalti. Karena itulah, memilih penerbit yang terpercaya sangat penting.
Penerbitan konvensional juga membutuhkan kegigihan penulis agar naskahnya bisa diterima penerbit. Penerbit selalu mencari naskah yang laku dijual, itu intinya. Sebagus apa pun sebuah naskah menurut penulisnya, tapi bila menurut editor tidak layak jual, naskah akan tetap ditolak. Faktor-faktor dalam menilai sebuah naskah, apakah layak jual atau tidak, berbeda pada masing-masing penerbit.
Tapi, tidak semua naskah yang ditolak oleh sebuah penerbit itu buruk. Tidak sedikit editor yang salah menilai sebuah naskah. Harry Potter dan Batu Bertuah yang ditulis oleh J.K. Rowling pernah ditolak oleh 12 penerbit. Walaupun ada penolakan, cara menerbitkan buku ini disukai banyak penulis karena setelah naskah dinyatakan layak terbit, penulis banyak dibantu oleh penerbit dalam memasarkan naskahnya. Penulis tinggal tahu beres, mendapat hasil yang diberikan penerbit kepadanya.
Penerbitan Indie (Self Publish)
Seorang penulis buku indie yang pernah banyak membagi ilmunya pada suatu kesempatan diskusi buku adalah Kirana Kejora. Beberapa tahun lalu, di Surabaya, ia memiliki kenalan grup-grup band indie dan model. Suatu ketika, kalau tidak salah tahun 2004, Kirana menulis sebuah buku yang berisi kumpulan puisi dan novelet. Di antara sekian banyak temannya yang musisi dan model, tidak ada yang melahirkan karya tulis seperti itu. Namun, teman-temannya inilah yang berjasa baginya. Mereka banyak yang mendukung buku karya Kirana, memberi ide untuk mengemas buku itu dengan menarik, lalu mengadakan launching buku itu di sebuah acara musik yang menampilkan band-band indie.
Tak dinyana, buku itu disambut dengan cukup baik. Kirana kemudian memberanikan diri untuk memasarkan buku-buku itu ke toko buku. Di toko buku Gramedia, Uranus, dan beberapa toko buku lainnya di Surabaya, Kirana berjuang agar buku-bukunya bisa terdistribusi lebih luas.
Kirana juga menyampaikan gambaran soal keuntungan penerbitan buku indie. Misalnya, sebuah buku dicetak dengan biaya Rp15.000. Buku tersebut bisa dijual dengan harga Rp60.000. Jadi, seorang penulis buku indie bisa mendapat keuntungan sebanyak tiga kali lipat harga bukunya bila ia melakukan direct selling, sama sekali tak menggunakan jasa distributor yang memasok buku-buku itu ke toko-toko buku.
Namun, kendala penerbitan secara indie tidak kecil. Pertama, seorang penulis harus memiliki modal cukup banyak untuk mencetak bukunya sendiri. Harga cetak sebuah buku bisa menjadi murah bilamana buku tersebut dicetak paling sedikit 500 buah (dicetak secara offset). Seseorang bercerita bahwa ia baru saja menerbitkan buku yang dicetaknya sebanyak 100 buah (dicetak secara Print on Demand, atau PoD). Harga cetak per buku itu dengan cara PoD Rp26.000, sementara bila dicetak sebanyak 500 buah, harga cetaknya hanya sekitar Rp15.000. Jadi, mencetak 100 buku itu mengeluarkan dana Rp2.600.000 sementara bila mencetak 500 buah akan memerlukan dana Rp7.500.000.
Nah, dari hal itu lahirlah kendala kedua: bila seorang penulis sudah memiliki dana yang cukup untuk mencetak buku di atas 500 buah, apa yang harus dilakukannya agar buku tersebut laku terjual? Penulis harus giat berpromosi lewat segala cara. Tidak lucu rasanya kalau buku-buku tersebut pada akhirnya harus dibiarkan menumpuk atau dibagi-bagikan gratis.
Penerbitan Kerjasama, Indie dan Konvensional
Penerbitan indie adalah penulis ikut menanggung biaya cetak buku, memiliki kesempatan untuk menjual bukunya sendiri, tapi bukunya juga dipasarkan di toko-toko buku sehingga tetap mendapatkan royalti. Pertanyaannya, bagaimana perhitungan tanggungan biaya cetak, harga jual buku, dan royalti?
Semuanya diawali dari penentuan harga jual buku. Katakanlah, sebuah buku akan dijual dengan harga Rp50.000. Buku ini nantinya akan dicetak 1300 eksemplar: 1000 dipasarkan di toko buku, 300 diberikan kepada penulis. Nah, biaya yang ditanggung penulis adalah 60 persen dari 300 buku yang diterimanya (300 x Rp50.000 x 0,6), yaitu Rp9.000.000.
Nah, bila penulis berhasil menjual 300 buku yang menjadi jatahnya, ia sudah mendapat uang Rp15.000.000 (300 x Rp50.000). Ini berarti penulis sudah mendapatkan keuntungan Rp6.000.000 dari biaya awal yang ditanggungnya (Rp.15.000.000 - Rp9.000.000). Dan, keuntungan itu masih ditambah dengan royalti dari buku yang berhasil dipasarkan oleh pihak penerbit — yang jumlahnya 1000 buah tadi.
Bagaimana dengan cara-cara diatas, tertarik bekerja sama dengan penerbit buku, anda pun juga bisa bekerja sama apalagi jika buku anda di jual di toko online.
demikian semoga bermanfaat..
10 Tips Meresensi Buku
Pernahkahkah anda membuat resensi buku? Membuat resensi buku sangat berbeda dengan melakukan mebuat sinopsis apalagi jual buku dan sebagainya. Resensi buku merupakan tulisan deskriptif yang berisi analisis kritis serta evaluasi terhadap kualitas dari sebuah buku. Jadi maksudnya resensi buku bukanlah ringkasan sebuah buku. Ya benar, meresensi berarti juga melacak kekuatan dan kelemahan dari materi yang dianalisis .
Sebenarnya, tidak ada formula khusus menulis resensi buku. Sifatnya sangat pribadi dan mencerminkan pendapat peresensi. Bahkan sering kali faktor subyektivitas bermain besar di sana. Ulasan bisa jadi hanya 50-100 kata, bisa juga sampai 1500 kata. Hal itu tergantung pada tujuan peresensi, dan biasanya juga media menuangkan resensi.
Walaupun tidak ada formula khusus, setidaknya ada beberapa hal standar yang bisa dirujuk untuk menulis resensi buku.
1 . Menulis informasi penting tentang buku tersebut : judul, penulis, tanggal hak cipta pertama, jenis buku, materi pelajaran umum, fitur-fitur khusus, harga dan ISBN .
2 . Pahami tujuan penulis menulis buku tersebut. Salah satu cara adalah membaca kata pengantar penulis. Jika tidak ada cobalah menganalisis dengan meminjam sudut pandang penulis buku. Bisa juga dengan membaca daftar isi.
3. Bacalah secara keseluruhan buku tersebut. Jangan lupa untuk memegang pensil, jika sewaktu-waktu kita menemukan hal yang akan kita bahas. Kita bisa menandainya atau langsung menuliskan di ruang kosong halaman tersebut.
4. Cobalah menilai seberapa baik buku itu. Apakah kita akan merekomendasikan kepada yang lain? Kenapa? Carilah juga kelemahan buku tersebut. Dan meresensi novel misalnya, kita bisa meninjau dari sisi intrinsik tulisan.
5 . Usahakan mencari informasi lebih lanjut tentang penulis - reputasi, kualifikasi, pengaruh, biografi, dan lainnya - informasi relevan dengan buku yang terakhir dan itu akan membantu untuk membangun otoritas penulis.
6 . Jika perlu, buat catatan mengenai format buku - tata letak, penjilidan, tipografi, dan sebagainya. Apakah ada diagram atau ilustrasi? Apakah membantu pembaca lebih mudah memahami isi buku?
7 . Periksa hal ini kembali: Apakah indeksnya akurat? Periksa setiap catatan akhir atau catatan kaki. Apakah memberikan informasi tambahan yang penting? Buat catatan dari kekeliruan penting yang dibuat penulis.
8 . Buat ringkasan pendek dilengkapi kesimpulan umum. Jangan ragu membuat perbandingan dengan buku sejnis karya penulis lainnya. Bisa juga membandingkan dengan karya sebelumnya dari penulis tersebut. Apakah lebih baik? Untuk meresensi satu buku, seringkali kita harus membaca buku lainnya.
9. Hal paling mudah belajar dengan cepat menulis resensi buku adalah membaca resensi buku karya perensi lainnya. Carilah yang gaya menulisnya kita sukai. Perhatikan dengan baik pola tulisannya, apakah dari umum ke khusus atau sebaliknya.
10. Jangan puas dengan menulis satu resensi. Jadikan kebiasaan setiap selesai membaca buku menuliskan resensinya. Baik untuk kepentingan memperoleh materi ataupun kepuasan pribadi. Anda pun dapat menawarkan keahlian anda ini ke penerbit buku dan juga penjual buku.
Jika anda tidak sempat melihat contoh resensi di toko buku, anda juga dapat melihatnya di toko online.
Selamat meresensi buku.
Langganan:
Komentar (Atom)