Senin, 16 Desember 2013

Agar Blog menjadi sebuah Buku

Sekarang sudah banyak blogger yang menerbitkan buku ke pasaran, kebanyakan buku yang diterbitkannya tersebut berasal dari hasil blog-nya di dunia online. Buku yang disusun dari konten blog disebut blook, kombinasi dari blog dan book. Blook pertama kali diterbitkan oleh Joel Spolsky, dengan penerbit Apress pada tanggal 26 Juni 2001, dari blog Joel tentang Software. Sedangkan di Indonesia sendiri sudah banyak contoh sebuah blook, misalnya Kambing Jantan-nya Raditya Dika. Awalnya berupa tulisan ringan di blog radityadika.com, kemudian dibukukan dan sukses menjadi best seller. Bahkan diangkat menjadi sebuah film. Kemudian dilanjutkan dengan diterbitkannya buku-buku lainnya. Nama Raditya Dika pun kini dikenal sebagai blogger yang juga sutradara, aktor, penulis skenario, buzzer dan terakhir aktif di stand up comedy.
Contoh lain adalah Wisnu Nugroho yang berhasil menerbitkan tetralogi (4 seri buku) tentang Pak Beye, Matahari Timur yang sudah menerbitkan buku Jihad Terlarang, Bang Namun dan Mpok Geboy, dan tujuh buku lainnya yang kesemuanya itu berasal dari blog pribadinya.

Rasanya sudah cukup contoh yang diberikan dan bagaimana cara agar tulisan blog kita berhasil menjadi sebuah buku. Berikut cara meringkasnya:

1. Mempunyai Blog

Tentu saja jika ingin menjadi blogger tentu harus mempunyai blog atau website sebagai media untuk menulis. Bisa yang berbayar dengan menggunakan dotcom atau yang gratisan seperti blogdetik ini. Silahkan pilih, untuk awal mungkin bisa menggunakan yang gratisan terlebih dahulu. Jika dirasa sudah lebih serius lagi menekuni dunia blogging dan menemukan passion, silahkan beli domain dotcom-nya. Untuk personal branding, gunakan nama yang ringkas, jangan terlalu panjang. Jika bisa samakan dengan nama akun twitter, facebook dan social media lainnya.

2. Mulai Menulis

Kemudian mulailah menulis hal-hal yang kita sukai dan kuasai. Jika kita suka traveling, tulislah cerita tentang perjalanan. Jika kita suka masak atau makan, bisa menulis tentang kuliner. Selain itu juga materinya harus kita kuasai. Informasinya sedetail mungkin. Termasuk hal-hal kecil. Mungkin apa yang sudah kita ketahui, bisa jadi belum diketahui oleh orang lain. Dan yang paling penting adalah fokus pada materi.

3. Mengumpulkan Materi

Untuk sebuah buku minimal materi yang terkumpul sebanyak 80 100 halaman A4 dengan 1.5 spasi. Silahkan copy tulisan di blog dan paste di word. Coba cek apakah tulisan kita sudah memenuhi syarat dalam hal jumlah halaman? Jika belum silahkan tambahkan, bisa juga ditambahkan gambar agar pembaca tertarik dan tidak jenuh oleh tulisan saja. Sebelum menjadi buku dapat juga dijadikan e-book dan di publikasikan di blog. Jika ada penerbit yang tertarik, tinggal hapus postingan ebook tentang buku tersebut.

4. Mengirimkan Materi

Setelah materi terkumpul, saatnya mengirim materi buku kepada penerbit umum. Jangan kecewa kalau ditolak. Coba berikan lagi ke penerbit yang kira-kira cocok dengan materi tulisan kita. Jangan mengirim materi tentang traveling tapi ke sebuah penerbit tentang agama. Pasti ditolak. Jika mereka setuju, kita akan dibuatkan kontrak. Biasanya untuk cetak pertama sebanyak 3.000 eksemplar. Royalti 10% dari harga jual buku dan kita akan dibayar 25% dari royalti penjualan buku. Jika sebuah buku harganya Rp 35.000,- kita akan mendapat 25% dari 3.000 eksemplar x 10% yaitu sebesar Rp 2.125.000,-
Jika ditolak terus jangan kecewa. Saat ini bisa menerbitkan buku sendiri (self published). Dengan membayar minimal order kita sudah bisa membuat buku. Untuk pemasaran kita bisa memanfaatkan sosial media untuk promosi.
Masih berat untuk pembayarannya? Bisa juga menerbitkan buku bersama teman-teman blogger lainnya. Dengan demikian biaya yang dikeluarkan tidak terlalu berat karena akan ditanggung bersama. Konsekwensinya royaltipun akan dibagi juga.

4. Promosi
Setelah buku terbit kita bisa promosikan lewat sosial media seperti Facebook, Twitter dan bisa di blog sendiri. Langkah ini cukup penting apalagi jika menerbitkan dengan sistem self publishing, karena yang menjadi marketing adalah kita sendiri. Atau bisa juga jika diterbitkan oleh penerbit umum, pasti buku kita juga tersedia di penjual buku/ toko buku. Pengalaman pribadi saya ketika itu saat mengunjungi toko buku sangat antusias sekali melihat apakah buku kita sudah tersedia atau belum. Jika biasanya datang ke toko buku mencari buku favorit, sekarang mencari buku sendiri.

Semoga tipsnya bisa bermanfaat :)

Rabu, 11 Desember 2013

Membaca Buku untuk Kesehatan

Membaca bukanlah suatu hobi saja adalah sebuah keharusan, engan membaca, pandangan kita menjadi lebih terbuka terhadap hal-hal baru yang tidak kita ketahui sebelumnya. Harga jual buku yang tidak terlalu mahal harusnya membuat kita lebih banyak membaca buku. Bila sebelumnya membaca identik dengan buku, maka di jaman yang serba digital ini membaca tidak hanya terpaku pada membaca buku karena segala informasi terkini telah tersedia di dunia maya.
Setidaknya ada 5 manfaat membaca untuk kesehatan:
Manfaat  manfaat Membaca Buku:
1. Melatih otak
Salah satu manfaat membaca buku adalah sebagai latihan otak dan pikiran. Membaca dapat membantu menjaga otak agar selalu menjalankan fungsinya secara sempurna. Saat membaca, otak dituntut unutk berpikir lebih sehingga dapat membuat orang semakin cerdas. Tapi untuk latihan otak ini, membaca buku harus dilakukan secara rutin.
2. Meringankan stres
Stres adalah faktor risiko dari beberapa penyakit berbahaya. keindahan bahasa dalam tulisan dapat memiliki kemampuan untuk menenangkan dan mengurangi stres, terutama membaca buku fiksi sebelum tidur. Cara ini dianggap efektif dan bagus untuk mengatasi stres.
3. Menjauhkan risiko penyakit Alzheimer
Membaca benar-benar dapat meningkatkan daya ikat otak. Ketika membaca, otak pun akan dirangsang dan stimulasi (rangsangan) secara teratur dapat membantu mencegah gangguan pada otak termasuk penyakit Alzheimer. Penelitian telah menunjukkan bahwa latihan otak seperti membaca buku atau majalah, bermain teka-teki silang, Sudoku, dan lain-lain dapat menunda atau mencegah kehilangan memori. Menurut para peneliti, kegiatan ini merangsang sel-sel otak dapat terhubung dan tumbuh.
4. Mengembangkan pola tidur yang sehat
Bila Anda terbiasa membaca buku sebelum tidur, maka itu bertindak sebagai alarm bagi tubuh dan mengirimkan sinyal bahwa sudah waktunya tidur. Ini akan membantu Anda mendapatkan tidur nyenyak dan bangun segar di pagi hari.
5. Meningkatkan konsentrasi
Orang yang suka membaca akan memiliki otak yang lebih konsentrasi dan fokus. Karena fokus ini, pembaca akan memiliki kemampuan untuk memiliki perhatian penuh dan praktis dalam kehidupan. Ini juga mengembangkan keterampilan objektivitas dan pengambilan keputusan.

Kamis, 31 Oktober 2013

Kelebihan Menjadi seorang Penulis Buku


Profesi penulis dapat dikategorikan menjadi beragam bentuk. Ada penulis artikel yang biasa disebut kolumnis, ada penulis resensi yang biasa disebut resensator, ada penulis kritik yang biasa disebut kritikus, ada penulis naskah pidato, ada penulis naskah film dan lain-lain. Jadi, penulis dapat melingkupi beberapa bidang berdasarkan jenis dan tujuannya. Lalu, mengapa penulis buku dipilih?

Buku memang dapat dijadikan pilihan karena memiliki lima kelebihan. Lantas Apa sajakah kelebihannya simak dibawah ini:

Membahas Tuntas

Setiap media pasti menentukan jumlah karakter atau kata untuk setiap artikel yang dikirimkan penulis. Rerata setiap artikel maksimal terdiri atas 6000 kata. batasan ini sangat merugikan penulis. Mengapa? Semata  kata. Menurutku, jelas batasan ini sangat merugikan penulis. Mengapa? Semata saya tak bisa menuntaskan ide untuk menuangkan segala isi pikiran. Jika ide itu dituangkan ke naskah buku, andapun bisa memiliki keleluasaan untuk mengembangkan berdasarkan pengetahuan dan pengalaman.

Awet

Namanya saja buku, tentu benda itu harus dijilid dan disampuli. Karena dijilid itulah, buku lebih awet daripada koran. Selain itu, buku juga dapat digunakan sepanjang masa tanpa batasan waktu. Selagi penerbit masih memiliki pertimbangan permintaan pasar, biasanya buku itu akan terus diterbitkan. Mungkin penulis hanya diminta untuk memerbaharui alias merevisi beberapa bagiannya.

Buku memiliki kadar keilmiahan dan keilmuan lebih baik daripada sekadar opini dalam artikel. Setiap buku nonfiksi tentang pengetahuan tentunya ditulis berdasarkan sikap ilmiah sang penulis. Oleh karena itu, penulis akan selalu berusaha menyelaraskan konsep yang dikembangkannya berdasarkan sikap ilmiahnya, yaitu pemakaian buku referensi. Di sinilah kelebihan buku tersebut, tak semata berisi opini yang dikembangkan sang penulis.

Poin Berlebih

Bagi orang yang berprofesi sebagai pegawai dan atau karyawan, pasti kita mengetahui bahwa kita diwajibkan untuk menyusun karya ilmiah manakala kita berkeinginan untuk naik pangkat. Buku adalah sumur sekaligus tambang poin alias nilai kredit yang sangat tinggi. Setahuku, sebuah buku ber-ISBN memiliki bobot 4 – 8 poin. Perbedaan itu disebabkan jenis buku dan tingkat persebarannya. Jika buku itu digunakan secara nasional (bahkan internasional), tentu kredit poinnya pun membengkak.

Nilai Kebaikan

Penulis itu pendakwah yang diwujudkan dalam bentuk tulisan. Oleh karena itu, penulis akan menuangkan gagasan terbaiknya secara tulus. Karena keikhlasan inilah, Allah memberikan kelebihan kebaikan kepada penulis. Jika satu huruf kebaikan terbaca akan memberikan satu derajat kebaikan kepada pembacanya, sudah barang tentu penulis akan diberikan Allah dengan beragam kebaikan lainnya. Maka, pernahkah kita menemukan penulis itu miskin (ilmu dan harta)? Justru begitu banyak orang menjadi kaya dan dikayakan karena kegemarannya menulis buku.

Mari menulis buku, apalagi sambil menjual buku yang anda tulis tersebut..

Tips Singkat dalam Menulis Buku


Saat ini pertumbuhan demand terhadap buku semakin meningkat, oleh karena itu bisnis jual buku terutama menjualnya di toko online sedang tren. Dibawah ini ada beberapa poin singkat mengenai cara menulis buku.

Keuntungan menulis buku diantaranya;


  • Menguasai materi
  • Bertambah wibawa
  • Menjadi teladan
  • Mendapatkan penghasilan
  • Mendapatkan poin untuk keperluan kenaikan pangkat
  • Tips menulis buku ajar;


Baca buku jajar yang lolos BNSP

  • Pelajari SI
  • Buat peta konsep
  • Kumpulkan materi, dan
  • Kembangkan


Kelebihan menulis buku teks;


  • Pembelian banyak
  • Penghasilan terhadap jual buku lebih banyak
  • Mendapatkan poin lebih banyak


Tips menulis buku pengayaan;


  • Pelajari SI
  • Temukan kebutuhan
  • Susun mid set
  • Kumpulkan bahan
  • Kembangkan
  • Diskusi
  • Tawarkan


Kelebihan buku pengayaan


  • Umur buku lebih panjang
  • Materi luas
  • Syarat ringan


Tips mengejar penerbit


  • Bergaul dengan para penulis handal
  • Gunakan internet untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya
  • IKAPI
  • Percaya diri untuk mempromosikan diri di sosial media


Demikian tips singkatnya, semoga bermanfaat.

Tiga Cara Menerbitkan Buku


Zaman sudah berubah, menerbitkan buku tidak lagi susah. Penerbit makin banyak bermunculan. Banyak orang dan kalangan berlomba-lomba menerbitkan buku. Komunitas-komunitas sastra menerbitkan antologi puisi atau cerpen. Para dosen menerbitkan buku-buku teks atau panduan bagi mahasiswa, sekalian menambah poin angka kreditnya. Para pembicara seminar menulis buku yang berisi materi-materi seminarnya, sekalian dijual saat mengadakan seminar di berbagai tempat.

Terlepas dari sampai sejauh mana sebuah buku bisa bermanfaat bagi para pembacanya. Ada tiga cara dalam menerbitkan buku berikut diantaranya:

Penerbitan Umum (Konvensional)

Penerbitan ini adalah cara yang paling banyak ditempuh oleh penulis. Para penulis menyerahkan naskah pada penerbit, kemudian menunggu selama beberapa minggu atau bulan untuk mendapatkan kepastian naskahnya layak terbit, tidak layak, atau perlu direvisi sebelum terbit. Tiap penerbit memiliki waktu yang berbeda dalam menilai naskah. Penerbit Gramedia Pustaka Utama biasanya menilai sebuah naskah selama 2 hingga 3 bulan. Penerbit Bhuana Ilmu Populer melakukannya selama 60 hari. Penerbit Elexmedia, Dolphin, atau Bentang Pustaka melakukannya dalam waktu yang lebih pendek, yakni sebulan.

Bila sebuah naskah dinyatakan layak terbit, biasanya penulis diajak bekerjasama oleh penerbit, dalam hal ini diwakili editor, untuk merapikan (mengedit) naskahnya, memberikan usul tentang kaver buku, dan beberapa hal lainnya seputar bentuk buku yang akan dicetak. Penulis juga akan menerima surat kontrak atau perjanjian tentang hasil yang diterimanya dari penjualan bukunya.

Ada hasil yang diberikan sekali saja, biasanya dikenal dengan istilah atau sistem beli putus. Hasil berupa uang ini diberikan penerbit kepada penulis saat bukunya sudah selesai dicetak dan siap dipasarkan. Salah satu penerbit yang sering melakukan beli putus ini adalah Diva Press. Jadi, lewat cara beli putus, dapat dikatakan bahwa penulis menjual naskahnya yang dibayar secara kontan oleh penerbit.

Ada juga hasil yang diberikan dalam bentuk atau sistem royalti. Royalti adalah hasil penjualan buku yang diberikan kepada penulis secara berkala — biasanya 6 bulan sekali. Tiap penerbit memiliki penghitungan royalti yang berbeda. Ada penerbit yang memberikan royalti 10 persen dari harga jual sebuah buku kepada penulis, ada yang cuma memberikan 8 persen.

Hal yang perlu diwaspadai oleh penulis adalah kecurangan penerbit dalam melaporkan jumlah naskah yang dicetak atau laku terjual. Saat sebuah penerbit memutuskan untuk menerbitkan sebuah naskah dan mencetaknya sekian ribu eksemplar, umumnya penulis tidak melihat proses itu secara langsung. Demikian pula dengan jumlah naskah yang laku, penulis hanya menerima laporannya dan kemudian mendapatkan royalti. Karena itulah, memilih penerbit yang terpercaya sangat penting.

Penerbitan konvensional juga membutuhkan kegigihan penulis agar naskahnya bisa diterima penerbit. Penerbit selalu mencari naskah yang laku dijual, itu intinya. Sebagus apa pun sebuah naskah menurut penulisnya, tapi bila menurut editor tidak layak jual, naskah akan tetap ditolak. Faktor-faktor dalam menilai sebuah naskah, apakah layak jual atau tidak, berbeda pada masing-masing penerbit.

Tapi, tidak semua naskah yang ditolak oleh sebuah penerbit itu buruk. Tidak sedikit editor yang salah menilai sebuah naskah. Harry Potter dan Batu Bertuah yang ditulis oleh J.K. Rowling pernah ditolak oleh 12 penerbit. Walaupun ada penolakan, cara menerbitkan buku ini disukai banyak penulis karena setelah naskah dinyatakan layak terbit, penulis banyak dibantu oleh penerbit dalam memasarkan naskahnya. Penulis tinggal tahu beres, mendapat hasil yang diberikan penerbit kepadanya.

Penerbitan Indie (Self Publish)

Seorang penulis buku indie yang pernah banyak membagi ilmunya pada suatu kesempatan diskusi buku adalah Kirana Kejora. Beberapa tahun lalu, di Surabaya, ia memiliki kenalan grup-grup band indie dan model. Suatu ketika, kalau tidak salah tahun 2004, Kirana menulis sebuah buku yang berisi kumpulan puisi dan novelet. Di antara sekian banyak temannya yang musisi dan model, tidak ada yang melahirkan karya tulis seperti itu. Namun, teman-temannya inilah yang berjasa baginya. Mereka banyak yang mendukung buku karya Kirana, memberi ide untuk mengemas buku itu dengan menarik, lalu mengadakan launching buku itu di sebuah acara musik yang menampilkan band-band indie.

Tak dinyana, buku itu disambut dengan cukup baik. Kirana kemudian memberanikan diri untuk memasarkan buku-buku itu ke toko buku. Di toko buku Gramedia, Uranus, dan beberapa toko buku lainnya di Surabaya, Kirana berjuang agar buku-bukunya bisa terdistribusi lebih luas.

Kirana juga menyampaikan gambaran soal keuntungan penerbitan buku indie. Misalnya, sebuah buku dicetak dengan biaya Rp15.000. Buku tersebut bisa dijual dengan harga Rp60.000. Jadi, seorang penulis buku indie bisa mendapat keuntungan sebanyak tiga kali lipat harga bukunya bila ia melakukan direct selling, sama sekali tak menggunakan jasa distributor yang memasok buku-buku itu ke toko-toko buku.

Namun, kendala penerbitan secara indie tidak kecil. Pertama, seorang penulis harus memiliki modal cukup banyak untuk mencetak bukunya sendiri. Harga cetak sebuah buku bisa menjadi murah bilamana buku tersebut dicetak paling sedikit 500 buah (dicetak secara offset). Seseorang bercerita bahwa ia baru saja menerbitkan buku yang dicetaknya sebanyak 100 buah (dicetak secara Print on Demand, atau PoD). Harga cetak per buku itu dengan cara PoD Rp26.000, sementara bila dicetak sebanyak 500 buah, harga cetaknya hanya sekitar Rp15.000. Jadi, mencetak 100 buku itu mengeluarkan dana Rp2.600.000 sementara bila mencetak 500 buah akan memerlukan dana Rp7.500.000.

Nah, dari hal itu lahirlah kendala kedua: bila seorang penulis sudah memiliki dana yang cukup untuk mencetak buku di atas 500 buah, apa yang harus dilakukannya agar buku tersebut laku terjual? Penulis harus giat berpromosi lewat segala cara. Tidak lucu rasanya kalau buku-buku tersebut pada akhirnya harus dibiarkan menumpuk atau dibagi-bagikan gratis.


Penerbitan Kerjasama, Indie dan Konvensional

Penerbitan indie adalah penulis ikut menanggung biaya cetak buku, memiliki kesempatan untuk menjual bukunya sendiri, tapi bukunya juga dipasarkan di toko-toko buku sehingga tetap mendapatkan royalti. Pertanyaannya, bagaimana perhitungan tanggungan biaya cetak, harga jual buku, dan royalti?

Semuanya diawali dari penentuan harga jual buku. Katakanlah, sebuah buku akan dijual dengan harga Rp50.000. Buku ini nantinya akan dicetak 1300 eksemplar: 1000 dipasarkan di toko buku, 300 diberikan kepada penulis. Nah, biaya yang ditanggung penulis adalah 60 persen dari 300 buku yang diterimanya (300 x Rp50.000 x 0,6), yaitu Rp9.000.000.

Nah, bila penulis berhasil menjual 300 buku yang menjadi jatahnya, ia sudah mendapat uang Rp15.000.000 (300 x Rp50.000). Ini berarti penulis sudah mendapatkan keuntungan Rp6.000.000 dari biaya awal yang ditanggungnya (Rp.15.000.000 - Rp9.000.000). Dan, keuntungan itu masih ditambah dengan royalti dari buku yang berhasil dipasarkan oleh pihak penerbit — yang jumlahnya 1000 buah tadi.

Bagaimana dengan cara-cara diatas, tertarik bekerja sama dengan penerbit buku, anda pun juga bisa bekerja sama apalagi jika buku anda di jual di toko online.

demikian semoga bermanfaat..

10 Tips Meresensi Buku



Pernahkahkah anda membuat resensi buku? Membuat resensi buku sangat berbeda dengan melakukan mebuat sinopsis apalagi jual buku dan sebagainya. Resensi buku merupakan tulisan deskriptif yang berisi analisis kritis serta evaluasi terhadap kualitas dari sebuah buku. Jadi maksudnya resensi buku bukanlah ringkasan sebuah buku. Ya benar, meresensi berarti juga melacak kekuatan dan kelemahan dari materi yang dianalisis .

Sebenarnya, tidak ada formula khusus menulis resensi buku. Sifatnya sangat pribadi dan mencerminkan pendapat peresensi. Bahkan sering kali faktor subyektivitas bermain besar di sana. Ulasan bisa jadi hanya 50-100 kata, bisa juga sampai 1500 kata. Hal itu tergantung pada tujuan peresensi, dan biasanya juga media menuangkan resensi.

Walaupun tidak ada formula khusus, setidaknya ada beberapa hal standar yang bisa dirujuk untuk menulis resensi buku.

1 . Menulis informasi penting tentang buku tersebut : judul, penulis, tanggal hak cipta pertama, jenis buku, materi pelajaran umum, fitur-fitur khusus, harga dan ISBN .

2 . Pahami tujuan penulis menulis buku tersebut. Salah satu cara adalah membaca kata pengantar penulis. Jika tidak ada cobalah menganalisis dengan meminjam sudut pandang penulis buku. Bisa juga dengan membaca daftar isi.

3. Bacalah secara keseluruhan buku tersebut. Jangan lupa untuk memegang pensil, jika sewaktu-waktu kita menemukan hal yang akan kita bahas. Kita bisa menandainya atau langsung menuliskan di ruang kosong halaman tersebut.

4. Cobalah menilai seberapa baik buku itu. Apakah kita akan merekomendasikan kepada yang lain? Kenapa? Carilah juga kelemahan buku tersebut. Dan meresensi novel misalnya, kita bisa meninjau dari sisi intrinsik tulisan.

5 . Usahakan mencari informasi lebih lanjut tentang penulis - reputasi, kualifikasi, pengaruh, biografi, dan lainnya - informasi relevan dengan buku yang terakhir dan itu akan membantu untuk membangun otoritas penulis.

6 . Jika perlu, buat catatan mengenai format buku - tata letak, penjilidan, tipografi, dan sebagainya. Apakah ada diagram atau ilustrasi? Apakah membantu pembaca lebih mudah memahami isi buku?

7 . Periksa hal ini kembali:  Apakah indeksnya akurat? Periksa setiap catatan akhir atau catatan kaki. Apakah memberikan informasi tambahan yang penting? Buat catatan dari kekeliruan penting yang dibuat penulis.

8 . Buat ringkasan pendek dilengkapi kesimpulan umum. Jangan ragu membuat perbandingan dengan buku sejnis karya penulis lainnya. Bisa juga membandingkan dengan karya sebelumnya dari penulis tersebut. Apakah lebih baik? Untuk meresensi satu buku, seringkali kita harus membaca buku lainnya.

9. Hal paling mudah belajar dengan cepat menulis resensi buku adalah membaca resensi buku karya perensi lainnya. Carilah yang gaya menulisnya kita sukai. Perhatikan dengan baik pola tulisannya, apakah dari umum ke khusus atau sebaliknya.

10. Jangan puas dengan menulis satu resensi. Jadikan kebiasaan setiap selesai membaca buku menuliskan resensinya. Baik untuk kepentingan memperoleh materi ataupun kepuasan pribadi. Anda pun dapat menawarkan keahlian anda ini ke penerbit buku dan juga penjual buku.

Jika anda tidak sempat melihat contoh resensi di toko buku, anda juga dapat melihatnya di toko online.

Selamat meresensi buku.